Rabu, 07 November 2007

Akhirnya Atok Menyesal


Atok merasa semakin lama semakin tidak betah di rumah, sejak pembantu baru itu datang. Bu Tinah, pembantunya, datang bersama Toro, anak laki-lakinya yang sebaya dengannya. Atok tidak suka kepada Toro. Sebab ia selalu berpura-pura. Ia selalu rajin membantu Bu Tinah bekerja. Huh, supaya dilihat Mama, tuh. Supaya Mama menganggapnya ank yang rajin. Mama lalu akan berkata kepadanya, “Lihat Toro! Ia rajin. Ia juga tak pernah minta membelikan macam-macam seperti kamu. Padahal Toro juga anak tunggal.” Huh, terang saja. Toro kan anak seorang pembantu. Mana pantas ia bermalas-malasan. Mana pantas ia minta dibelikkan sepeda seperti dia. Sedangkan Papa adalah pedagang besar. Aku adalah anak satu-satunya Mama dan Papa. Atok semakin benci kepada Toro ketika Mama memasukkan Toro ke sekolahnya. Apalagi ketika hasil ulangan Toro lebih bagus daripada Atok. Atok kemudian minta kepada Mama agar Toro dipindahkan ke sekolah lain. Tetapi Mama menolak. Kata Mama, ia sengaja memasukkan Toro ke sekolah Atok agar mereka dapat berangkat sekolah dan belajar bersama. Ah, Mama, masa ia harus belajar dengan anak seorang pembantu. Sudah miskin banyak tingkah lagi! Atok menjadi sangat kesal. Di sekolah Atok tidak pernah berbicara kepada Toro. Ia malu kalau teman-teman tahu anak pembantunnya ternyata lebih pintar darinya. Di rumah ia juga tidak pernah menegur Toro. Kalau Toro menyapanya, ia hanya mendengus. Tentu saja tidak ada Mama dan Papa. Toro tidak berani nonton tivi kalau ada Atok. Sebab akan memelototinya. Kalau sudah begitu Toro akan kembali ke belakang. Ke kamarnya. Mengerjakan PR atau mengulang pelajaran. Suatu hari Bu Tinah sakit. Jadi Toro yang menggantikan tugasnya. Membantu Mama di dapur dan menyediakan makanan. Atok hanya memperhatikan sambil tersenyum-senyum. Ketika Toro datang sambil membawa mangkuk sayur, Atok pura-pura tidak melihatnya. Tetapi ketika Toro sudah dekat. Atok menjulurkan kakinya sehingga Toro jatuh dan bajunya basah oleh kuah sayur. Atok cepat-cepat menolong Toro bangun dan pura-pura minta maaf ketika Mama menyuruhnya. Malamnya Atoklah yang harus membantu Mama menyiapkan makanan. Mama marah sekali. Sebab menurut Mama. Atok sudah keterlaluan. Sambil membantu Mama, Atok menggerutu terus. Sekali-kali dilriknya pintu kamar Toro. Huh, sedang apa anak itu. Pasti lagi mendengkur! Karena merasa penasaran Atok mengintip Toro. Di dalam kelihatan agak gelap. Dilihatnya Toro sedang memijat kepala Bu Tinah. Bu Tinah sedang tiduran. Matanya terpejam. Atok tertegun. Di dengarnya suara isakan. Toro menangis? Dilihatnya dada Toro turun naik. Ya! Toro sedang menangis. Tiba-tiba Atok merasa bersalah. Kenapa ia tega mengganggu Toro. Padahal Toro juga harus merawat Ibunya yang sedang sakit. Toro tentu sangat sedih. Ia tentu bingung sebab Ibunya belum juga sembuh. Mungkin juga ia takut kalau Ibunya meninggal. Seperti ayahnya yang meninggal ketika ia masih sangat kecil. Atok merasa betapa jahatnya dia. Betapa jahatnya ia kepada Toro yang Yatim itu. Kenapa ia harus iri kepada anak Yatim yang miskin. Kenapa ia tidak mau belajar lebih rajin. Kenapa ia tidak mau membagi kasih sayang kepada sesama umat Tuhan. Bagaimana jika Tuhan membuat nasibnya sama seperti Toro? Atok sangat menyesal. Mat menyesal. Ya, ia berjanji akan merubah kelakuannnya.

Rabu, 24 Oktober 2007

teka teki



ada suatu kecelakaan ortu nya meninggal tapi kedua anaknya terselamatkan di RS ,lalu dokter itu mengatakan"itu kan anak saya"siapakah kah dokter itu??????

Dalam sbh permainan biliard ,di meja tsb trdpt bola 6789,org pertama memasukan bola 67,org kedua memasukan bola 8,berapakah sisa bola di meja biliard???????

Ada 1 family 2 bapa 2 anak sedang memancing di sungai,masing2 mendapat kan 2 ekor ikan ,tetapi yang anehnya slrh total ikan tsb hanya 6,KNP???????
Pke logika yach.......